Anak jalanan, pada
hakikatnya, adalah "anak-anak", sama dengan anak-anak lainnya yang
bukan anak jalanan. Mereka membutuhkan pendidikan. Pemenuhan pendidikan itu
haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak
bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan
berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja,
atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang.
Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak
mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta menjadi kering tak menarik. Dalam
mendidik anak, ibu dan ayah harus sepaham. Mereka harus bertindak sebagai
sahabat anak, kompak dengan guru, sabar sebagai benteng perlindungan bagi anak,
menjadi teladan, rajin bercerita, memilihkan mainan, melatih disiplin,
mengajari bekerja, dan meluruskan sifat buruk anaknya (misalnya : berkata kotor,
berkelahi, suka melawan, pelanggaran sengaja, mengamuk, keras kepala, selalu
menolak, penakut, manja, nakal).
Anak jalanan adalah anak yang terkategori tak berdaya. Mereka merupakan korban
berbagai penyimpangan, ataupun korban kesalahan orang tua dalam mendidik anak.
Untuk itu, mereka perlu diberdayakan melalui rumah singgah, panti social dan
pendidikan luar sekolah. Keadaan kota mengundang maraknya anak jalanan. Kota
yang padat penduduknya dan banyak keluarga bermasalah membuat anak yang kurang
gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan
jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat, dan hidup
merdeka, atau bahkan mengakibatkan anak-anak dianiaya batin, fisik, dan seksual
oleh keluarga, teman, orang lain lebih dewasa.
Disamping itu tidak sedikit anak jalanan yang
terjerumus pengaruh narkotika dan hal-hal semacamnya. Dilihat dari data BNN
sudah ditemukan anak usia 7 tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis
inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun sudah memakai ganja, lalu di usia
10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam jenis, seperti inhalan,
ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN bekerja sama dengan
Universitas Indonesia). Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus
pemakaian narkoba oleh pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007
berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan
meningkatnya kasus narkoba (lihat data narkoba BNN 2007) khususnya di kalangan
usia muda dan anak-anak. Tidak ada kata terlambat, hal tersebut juga berlaku
untuk menyelamatkan anak jalanan. Salah satu upayanya adalah dengan pendidikan.
Tidak hanya pendidikan formal akademis ataupun pembelajaran saja, tetapi harus
dibarengi dengan pendidikan agama untuk membimbing moral anak. Sekarang sudah
banyak panti-panti social dan rehabilitasi yang memberikan pendidikan dan
kegiatan yang lebih bermanfaat bagi anak jalanan ketimbang hanya mengamen dan
meminta-minta di terminal atau di jalan-jalan kota. Untuk anak jalanan, menurut
Ishaq (2000), pendidikan luar sekolah yang sesuai adalah dengan melakukan
proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam wadah "rumah singgah" dan
PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), yaitu : anak jalanan dilayani di
rumah singgah, sedangkan anak rentan ke jalan dan orang dewasa dilayani dalam
wadah PKBM.
Rumah singgah dan PKBM itu dipadukan dengan-sekaligus menerapkan-pendekatan kelompok dan CBE (Community Based Education, pendidikan berbasis masyarakat) serta strategi pembelajaran partisipatif dan kolaboratif (participative and collaborative learning strategy).
Program pendidikan yang terselenggara itu, antara lain, dapat berupa : Kejar Usaha; Kejar Paket A (setara SD); Kejar Paket B (setara SLTP); bimbingan belajar; Diktagama (pendidikan watak dan dialog keagamaan); Latorma (pelatihan olahraga dan bermain); Sinata (sinauwisata); Lasentif (pelatihan seni dan kreativitas); Kelompok Bermain; Kampanye KHA (Konvensi Hak Anak-anak); FBR (forum berbagi rasa); dan pelatihan Taruna Mandiri (M. Ishaq, 2000 : 371)
Sebenarnya mereka adalah generasi penerus bangsa yang jika tidak dididik malah akan merusak moral bangsa nantinya, oleh karena itu tugas kita selaku masyarakat yang bernasib lebih baik dari mereka untuk merangkul dan membimbing mereka dengan cara memfasilitasi mereka.
Jika saja anak jalanan mendapat fasilitas yang memadai bukan tidak mungkin mereka akan meraih sebuah prestasi yang sangat baik, karena sebenarnya dalam diri mereka terdapat bakat-bakat yang terpendam. Mereka memiliki potensi, seperti bermain musik, melukis, dan karya seni nlainnya. Contohnya saja sudah banyak artis-artis Indonesia yang awalnya adalah seorang anak jalanan.
Rumah singgah dan PKBM itu dipadukan dengan-sekaligus menerapkan-pendekatan kelompok dan CBE (Community Based Education, pendidikan berbasis masyarakat) serta strategi pembelajaran partisipatif dan kolaboratif (participative and collaborative learning strategy).
Program pendidikan yang terselenggara itu, antara lain, dapat berupa : Kejar Usaha; Kejar Paket A (setara SD); Kejar Paket B (setara SLTP); bimbingan belajar; Diktagama (pendidikan watak dan dialog keagamaan); Latorma (pelatihan olahraga dan bermain); Sinata (sinauwisata); Lasentif (pelatihan seni dan kreativitas); Kelompok Bermain; Kampanye KHA (Konvensi Hak Anak-anak); FBR (forum berbagi rasa); dan pelatihan Taruna Mandiri (M. Ishaq, 2000 : 371)
Sebenarnya mereka adalah generasi penerus bangsa yang jika tidak dididik malah akan merusak moral bangsa nantinya, oleh karena itu tugas kita selaku masyarakat yang bernasib lebih baik dari mereka untuk merangkul dan membimbing mereka dengan cara memfasilitasi mereka.
Jika saja anak jalanan mendapat fasilitas yang memadai bukan tidak mungkin mereka akan meraih sebuah prestasi yang sangat baik, karena sebenarnya dalam diri mereka terdapat bakat-bakat yang terpendam. Mereka memiliki potensi, seperti bermain musik, melukis, dan karya seni nlainnya. Contohnya saja sudah banyak artis-artis Indonesia yang awalnya adalah seorang anak jalanan.
Daftar Pustaka:
Ariesandi.2006. “Mendidik Anak
Jalanan”. [Online] Tersedia : http://www.vivanews.com. [26 Oktober 2009]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar